Pengabdian Masyarakat

Diskusi Terbatas Membedah Perkara Hak Atas Tanah Astra Nawa

Kegiatan yang dilakukan Astra Nawa pada 3 Agustus 2016 tersebut mendatangkan dua dosen yang ahli dibidangnya masing-masing, ada Dr. Sri Setyadji, S.H., M.H., sebagai pakar Hukum Agraria lalu Sad Praptanto Wibowo, S.H., M.H., sebagai Pakar Hukum Peradilan Tata Usaha Negara.

Seminar Sekolah Ramah Anak Dengan 30 SMA Se-Jawa Timur

Rabu, 2 Mei 2018, pukul 12.00-15.30 WIB telah diselenggarakan seminar dengan tema “Sekolah Ramah Anak (SRA)” yang dilaksanakan di Ruang I.107 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Agenda seminar ini merupakan bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional dan upaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengapresiasi 30 lebih SMA di Jawa Timur yang muridnya banyak menjadi mahasiswa/i di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Seminar ini bertujuan agar guru-guru BP memahami konsep SRA dan mampu membuat perencanaan SRA.

Seminar tersebut dihadiri oleh 50 guru BP, seperti SMA PAL, SMA 2 Medokan Semampir, SMAN 3 Surabaya, SMAN 6 Surabaya, dan masih banyak lagi. Adapun narasumber kegiatan yaitu Wiwik Afifah, S.Pi., S.H., M.H., narasumber tentang “Sekolah Ramah Anak”, Dr. Slamet Suhartono, S.H., M.H., tentang “Peran Universitas dalam Pendidikan”, dan Prof. Dr. Made Warka, S.H., M.Hum., menyampaikan “Pentingnya Pendidikan Bagi Anak”. Peserta sangat antusias dan mengikuti agenda hingga selesai.

Pasal 28B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan bahwa "Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi". Aturan tersebut merupakan jaminan bagi anak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan. Hal ini dikuatkan dengan Pasal 54 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yakni “Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindakan fisik kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain”.

Sekolah Ramah Anak/SRA merupakan upaya mewujudkan hak anak bebas dari kekerasan, sekolah yang aman, menyenangkan. SRA merupakan upaya penguatan kepada pendidik dan tenaga kependidikan agar berspektif anak, serta meningkatkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran dan pengambilan keputusan di sekolah.

*M

UKBH 8 Juni 2018

UKBH FH Untag Surabaya sedang melayani Hatta datang untuk berkonsultasi masalah pidana pada 8 Juni 2018. Di UKBH FH Untag Surabaya terdiri dari Divisi Perdata, Divisi Ketenagakerjaan, Divisi Perlindungan Anak, Divisi Tata Usaha Negara Dan Konstitusi, Divisi Litbang serta Divisi Publikasi Dokumentasi. UKBH FH Untag Surabaya diketuai oleh H. R. Adianto Mardijono, S.H., M.Si.

Diskusi Interaktif Dan Dialog Luar Studio Kerjasama FH Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Dengan RRI Surabaya

Rabu, 25 April 2018, pukul 09.00-10.00 WIB, Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menggelar diskusi interaktif bekerjasama dengan Radio Republik Indonesia Surabaya, bertempat di Ruang Peradilan Semu FH Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Acara yang berlangsung selama 1 jam ini, menyelenggarakan diskusi dengan tema “Perempuan Dalam Hari Kartini”. Dalam diskusi tersebut para narasumber, yakni:

  1. Dr. Fajar Sugianto, S.H., M.H.
  2. Dr.Erny Herlin Setyorini, S.H., M.H., dan
  3. Wiwik Afifah, S.Pi., S.H., M.H.

Ketiga narasumber membahas tentang perlindungan hukum terhadap perempuan. Dalam pembahasan mereka, salah satu mahasiswa FH Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang bernama Mona, mengajukan pertanyaan kepada para narasumber “Apakah transgender (laki-laki yang telah mengubah dirinya menjadi perempuan) dapat memiliki hak asasi perempuan yang diakui sepenuhnya?”. Atas pertanyaan itu, Erny menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan itu merupakan kodrat yang telah diberikan oleh Tuhan, sehingga kalau disejajarkan dengan segender itu tidak bisa. Akan tetapi dari segi hukum yang berlaku di Indonesia ini masih samar, masih belum ada yang mengatur lebih khusus terkait dengan transgender. Kemudian Fajar menambahkan, bahwa langkah pertama yang paling sulit ialah, seorang laki-laki mengubah dirinya menjadi seorang perempuan harus mendapat legitimasi hukum bahwa laki-laki itu telah menjelma menjadi perempuan. Hal ini tentunya masih menjadi perdebatan panjang sehingga tidak akan selesai didiskusikan hari ini dan menjadi PR untuk generasi-generasi yang akan datang.

Dari seluruh pembahasan yang dipaparkan oleh para narasumber, kesimpulan yang diberikan Wiwik Afifah bahwa komitmen dari kita semua agar tidak melakukan kekerasan terhadap diri dan lingkungan terdekat dengan kita, baik laki-laki maupun perempuan karena kita semua memiliki kedudukan yang sama baik di depan Tuhan maupun di depan Hukum Nasional maupun Internasional. Terlebih utama terhadap para perempuan dihimbau agar tidak merasa malu, takut, dsb. Akan tetapi harus menjadi orang yang mandiri, karena sesungguhnya di belakang perempuan itu akan ada banyak generasi yang diperjuangkan.

 

*M

Pro-Kontra Tercecernya KTP-el Di Bogor Dalam Perspektif Yuridis

Dr. Hufron, S.H., M.H., sebagai Narasumber Talkshow Ranah Publik Suara Muslim Surabaya 93.8 FM. Ia membicarakan topik Pro-Kontra Tercecernya KTP-el di Bogor dalam Perspektif Yuridis. Talkshow ini dilakukan pada 30 Mei 2018, pkl 09.00 WIB.